KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
Oleh
: Munanto Haris
Saat ini semakin ramai orang
berlomba-lomba mengejar jabatan, berebut kedudukan sehingga menjadikannya
sebagai sebuah obsesi hidup. Pengertian mereka yang menganut paham atau prinsip ini,
tidak lengkap rasanya selagi ada kesempatan, kalau tidak pernah (meski sekali)
menjadi orang penting, dihormati dan dihargai masyarakat.
Pangkat dan kedudukan di negeri kita
Indonesia dipandang sebagai sebuah "aset", karena ia baik langsung
maupun tidak langsung berkonsekwensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan,
kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran banyak yang
mencalonkan diri menjadi pejabat ekskutif maupun legislatif dan sebagainya
merupakan impian dan obsesi semua orang. Mulai dari kalangan politikus,
purnawirawan, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat, artis bahkan sampai kepada
kondektur bus dan tukang ojek.
Mereka berebut mengejar jabatan tanpa
mengetahui siapa sebenarnya dirinya, bagaimana kemampuannya, dan layakkah
dirinya memegang jabatan tersebut. Parahnya lagi, mereka kurang (tidak)
memiliki pemahaman yang benar tentang hakikat pemimpin dan kepemimpinan itu
sendiri. Karena menganggap jabatan adalah keistimewaan, fasilitas, kewenangan
tanpa batas, kebanggaan dan popularitas. Padahal jabatan adalah tanggung jawab,
pengorbanan, pelayanan, dan keteladanan yang dilihat dan dinilai banyak orang.
A. Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan
Pemimpin ialah seseorang yang menggunakan kemampuannya,
sikapnya, nalurinya, dan ciri-ciri kepribadiannya yang mampu menciptakan suatu
keadaan, sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerja sama untuk
mencapai tujuan.
Manager (Management Leader) adalah seorang pemimpin dengan
melaksanakan tugas berdasarkan prinsip dasar manajemen, yaitu perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian sehingga mampu menciptakan
keadaan orang lain yang dipimpinnya saling bekerja sama untuk mencapai tujuan.
Seorang pemimpin harus mempunyai kreativitas yang tinggi, untuk memimpin
bawahannya.
Kepemimpinan
adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengendalikan, memimpin, mempengaruhi
fikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya. Pendapat lain mengatakan kepemimpinan adalah
keterampilan dan kemampuan seseorang mempengaruhi perilaku orang lain, baik
yang kedudukannya lebih tinggi maupun lebih lebih rendah daripada nya dalam
berfikir dan bertindak agar perilaku yang semula mungkin individualistik dan
egosentrik berubah menjadi perilaku organisasional.
B. Kepemimpinan dalam Islam
Kepemimpinan itu wajib ada, baik
secara syar’i ataupun secara ‘aqli. Adapun secara syar’i misalnya tersirat dari
firman Allah tentang doa orang-orang yang selamat : “Dan jadikanlah kami sebagai imam
(pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa” [QS Al-Furqan : 74].
Demikian pula firman Allah : “Taatlah
kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan para ulul amri diantara
kalian” [QS An-Nisaa’ : 59]. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits
yang sangat terkenal : “Setiap dari
kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang
kepemimpinannya”. Terdapat pula sebuah hadits yang menyatakan wajibnya
menunjuk seorang pemimpin perjalanan diantara tiga orang yang melakukan suatu
perjalanan. Adapun secara ‘aqli, suatu tatanan tanpa kepemimpinan pasti akan
rusak dan porak poranda.
Kepemimpinan adalah amanah, titipan
Allah SWT, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab
kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk
memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi
kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak
zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya
dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.
Kepemimpinan menuntut keadilan.
Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan
harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan
mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan
melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan
latar belakang.
C. Kriteria seorang pemimpin
Dalam Islam pemimpin disebut
dengan Khalifah. Khalifah (Ar.: Khaliifah adalah wakil, pengganti atau duta).
Sedangkan secara istilah Khaliifah adalah orang yang bertugas menegakkan
syariat Allah SWT, memimpin kaum muslimin untuk menyempurnakan penyebaran
syariat Islam dan memberlakukan kepada seluruh kaum muslimin secara wajib,
sebagai pengganti kepemimpinan Rasulullah SAW . Kriteria pemimpin menurut Islam
:
Gambar 1 : Kriteria pemimpin
1. Beriman dan beramal shaleh
2. Niat yang lurus
3. Laki-laki
4. Tidak meminta jabatan
5. Berpegang pada hukum Allah
6. Memutuskan perkara dengan adil
7. Menasehati rakyat
8. Tidak menerima hadiah
9. Tegas dan lemah lembut
Dari pengertian diatas jelas
bahwa pemimpin menurut pandangan Islam tidak hanya menjalankan roda
pemerintahan begitu saja namun seorang pemimpin harus mewajibkan kepada
rakyatnya untuk melaksanakan apa saja yang terdapat dalam syariat Islam
walaupun bukan beragama Islam. Serta mempengaruhi rakyatnya untuk selalu
mengikuti apa yang menjadi arahan dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus
memiliki sifat-sifat, yaitu :
- Shidiq (selalu berkata dan berikap jujur dan benar). Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar. Sejalan dengan ucapannya. Shidiq sebagai modal dasar. Pertama-tama Penyampai amanah harus punya sifat jujur, kalau tidak , maka dia gugur sebagai penyampai.
- Amanah (dapat dipercaya) : Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Tidak pernah menggunakan wewenang dan otoritasnya sebagai pemimpin untuk kepentingan pribadinya atau kepentingan keluarganya,
3. Fathanah (cerdas dan bijaksana) : Seorang calon
pemimpin haruslah memiliki kecerdasan, baik secara emosional (EQ), spiritual
(SQ) maupun intelektual (IQ).
- Tabligh (penyampai) dapat berkomunikasi dengan baik : artinya menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Walaupun kita masih memiliki sifat jelek, kita wajib menyampaikan kebenaran. Untuk menyampaikan ini tidak perlu kita harus suci terlebih dahulu.
Sebagai
akhir tulisan ini mari kita lebih
berhati-hati dalam menentukan imam atau pemimpin kita. Karena apapun akibat
yang dilakukannya, maka kita pun akan turut bertanggung jawab terhadapnya. Jika
kepemimpinannya baik, maka kita akan merasakan nikmatnya. Sebaliknya, apabila
kepemimpinannya buruk, maka kita pun akan merasakan kerusakan dan
kehancurannya. Wallahu a'lam bish-showwab.
Sumber:
Anonymous.http://temukanpengertian.blogspot.com/2013/07/pengertian-pemimpin.html
di akses 11 Desember 2013.
Robbi D Muttaqien : http://www.akhbarislam.com/2013/07/pemimpin-menurut-islam.html di akses 12 Des’
2013
Siagian,
S. P. (1982). Administrasi Pembangunan. Gunung Agung, Jakarta.
Suradinata, Ermaya.
(1995). Psikologi Kepegawaian dan Peranan Pimpinan Dalam Motivasi Kerja . CV
Ramadan, Bandung.
Urip Santoso : http://uripsantoso.wordpress.com/2010/08/30/meneladani-empat-sifat-rasulullah/ di akses 13 Des’
2013.
Winardi.
(1990). Kepemimpinan Dalam Manajemen. PT. Rineka Cipta, Jakarta